Pages

Sabtu, 13 April 2013

Awal Tapk Kaki Mengejar Sebuah Impian 3

 Hiruk pikuk kota semakin meradang
 mewarnai sekitarnya
 kian lama ku tunggu hingga reda
 namun tak kunjung usai

    Tangis bayi kudapati

    jerit wanita kelaparan
    dengus nafas pencari nafkah
    semuanya lenyap dihantam kota

Hingga ku tau betapa kejamnya hidup

dan alam sebagai alternatifnya.



   Sebelumnya perkenankan saya untuk minta maaf karena begitu molornya tulisan ini. Akan tetapi, tak lega jikalau belum tuntas sepenuhnya. Untuk mengawali cerita ini, saya juga ingin menyapa teman-teman yang lg asyik dengan buku, pensil, serta soal-soal ujian, untuk yang disana semuanya semoga sukses ujiannya tanpa kendala apapun. Meskipun hanya doa, akan tetapi insyaAllah bermanfaat dan apalah arti sebuah usaha tanpa doa? begitu pula sebaliknya, apalah arti doa jika tanpa usaha? .


   Baik, mari kita lanjut kembali tulisan ini di pendakian perdana saya. Teman-teman sekalian, ketika kami telah mencapai puncak rengganis dan melihat segala keagungan Allah SWT, masih ada yang menarik  lagi selain bekas pondasi dan jurang yaitu adalah  sebuah impian yang telah lama saya pendam  nan hingga akhirnya saya dapat mencapainya di puncak rengganis ini. Kami hanya sujud syukur atas pertolongan Allah kami mampu menginjakkan kaki di puncak, setelah sedikit menikmati pemandangan dan jurang fenomenal tersebut kami mengabadikannya dengan berfoto lalu berkemas untuk kembali ke Pos Rawa Embik yang mana sudah ada 2 teman disana yang tengah berjaga peralatan pendakian kami.


   Lepas pukul 15.00 WIB, kami sampai di Pos Cisentor yang sebelum sampai kami di suguhi oleh padang rumput setinggi leher dan di akhiri dengan padang lavenda. Sangat cantik keadaan alam saat itu, mirip dengan sebuah tempat di G.Semeru yaitu oro-oro ombo akan tetapi yang membedakan adalah luasnya dan tingkat kelembapan di G.Argopuro itu sendiri jauh lebih luas dan lembap. Kami memutuskan untuk bermalam di Pos Cisentor sebab tampaknya mataharipun tak dapat di ajak diskusi ataupun kompromi untuk tetap singgah di tempatnya. Tenda kami dirikan seiring sore muklai melambaikan tangannya, rintik hujan pun tak mau kalah girangnya seakan ingin mengajak kami untuk berkomunikasi dengan caranya. :D


   Lelah, tak henti-hentinya memeluk erat tubuh kami yang saat itu lagi asyik memasak untuk makan malam(dinner ala gunung) dan 1gelas susu untuk 2orang, akan tetapi saya tidak ikut memasak sebab diminta tolongi untuk memijit Bapak. Hehehe. Maklum, saat itu usia beliau menginjak angka 47 tahun, namun meski begitu masih suka ndaki gunung hingga sekarang. Meskipun hanya makan malam dengan mie namun sangat enak karena melihat kondisi dan kebersamaan. Hingga pukul 19.17 WIB hujan tak kunjung reda, sampai pada titik kantuk yang sangat akhirnya kami terlelap dalam selimut kabut bermimpikan hujan.





  Hingga setelah sholat subuh, tidak ada diantara kami yang lekas untuk memasak sarapan. Tidak heran jika kami seperti itu karena lelah dan dingin yang enggan untuk pergi meninggalkan kami, namun ketika pukul 06.06 WIB kami baru beranjak dari singgasana matras yang semalam telah dengan setia menemani kami. Sarapan dengan mie goreng yang di temani dengan slada air gratis di sediakan g.Argopuro ini. ^_^  Perlu di ketahui, bahwa di dekat tenda yang kami dirikan terdapat sebuah sungai yang sangat jernih dan di hiasi oleh slada air. Nampaknya kami telah bersiap untuk melanjutkan kembali. Sedikit pemanasan serta pelenturan agar otot tidak tegang saat perjalanan. Pos berikutnya adalah Pos Ci kasur. Sebuah pos yang akan menjadi tempat kami bermalam terakhir di g.Argopuro ini. Kami mulai berjalan ke arah Ci kasur pada pukul 08.19 WIB, dengan sedikit melewati sungai kecil lalu di sambung dengan tanjakan yang luar biasa ke arah kanan. Meskipun tampak remeh, namun jangan dikira mudah sebab yaa inilah namanya alam bebas, tidak dapat di remehkan apa lagi di takhlukkan sebab alam tidak untuk di takhlukkan.



  Seperti yang tampak pada sanping tulisan ini, beginilah kondisi alam dan perjalanan menuju Pos Cikasur. Canda tawa bersahut-sahutan, meskipun sebenarnya ada di antara kami yang baru saja kenal di awal pendakian ini, akan tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi kami. Belantara hutan kami lewati, lembah hijau kami lampaui hingga waktu dzuhur tiba pun kami belum sampai di tempat yang akan kami dirikan tenda. Seribu tanda tanya memenuhi pikiran saya, bagaimanakah Cikasur tersebut. Kami singgah di padang rumput yang agak datar guna menunaikan sholat dzuhur serta di jama' sholat ashar.




  Lelah juga jika di pikir, sudah beberapa hari ini hanya mengonsumsi apa adanya yang kami bawa. Namun hal itu tidak menyurutkan keinginan kami untuk segera sampai di Pos Cikasur itu. Rupanya gunung argopuro ini tak henti-hentinya dan tak bosan menyuguhi kami pemandangan dan keindahannya, kali ini kami harus mengakui bahwa di hadapan kami terdapat hutan cemara di tepian padang rumput ini. Mata kami terbelalak dengan ini, maka tidak heran jika sebagian para pendaki menyebut gunung ini sebagai gunung Rinjani ke-2. Tak pernah saya sangka jika pendakian ini begitu sangat berkesan, di tambah lagi Cikasur yang dengan setia menunggu kami. Tak lama kemudian awan mulai gelap, hitam menggumpal, seakan awan berbicara pada kita akan adanya hujan rutin seperti biasanya. Cukup lama kami berjalan menuju Pos Cikasur tersebut hingga jam menunjukkan pukul 14.46 WIB. Nampak sangat jauh di tepi mata, kami melihat hijauan yang sangat luas dan berbeda dengan  padang rumput sebelumnya. Yaaaa, tapi itu masih jauh untuk di jangkau dan mau tidak mau dalam hati hanya menyimpan tanya. Banyak rerumputan, lumut, hingga alang-alang yang kami lewati saat ini dan tak akan di sia-siakan oleh sebagian kami yang ingin mengbadikannya dalam foto.



   Mungkin dengan sedikit berfoto ria, kami dapat melupakan lelahnya badan ini. Bisa kita lihat bagaimana Argopuro begitu cantiknya menemani perjalanan kami. Seperti biasa sedikit demi sedikit air hujan mulai turun sangat tipis. Akhirnya nampak Pos Cikasur yang kami tunggu, namun sebelum menuju kesana ada teman kami yang terkilir kakinya sehingga harus menerima pengobatan.



  Memang tidak terlalu parah, namun perlu untuk dirawat agar tidak infeksi. Resah hati tak dapat terbendung ketika baterai handphone yang saya gunakan untuk berfoto sugah hampir habis, bagaimana tidak resah ? sebab waktu itu hanya handphone itu yang saya gunakan. Kian lama kami semakin dekat Cikasur, tepat di pukul 16.00 WIB kami mendirikan tenda di bawah halusnya air hujan saat itu. Sebagian ada yang mencari air di dekat sungai kecil dan tidak lupa pula untuk mencari slada air khas si cantik gunung argopuro, inilah salah satu sisi positif pendakian ini yaitu tidaj perlu khawatir dengan ketersediaan air untuk perbekalan perjalanan. Senja membungkus awan yang mulai terang dari mendung, namun tetap saja awan kembali gelap.

   Nampak senyumnya mengembang dari bibirnya di antara gerutan keriput wajah bapakku yang mulai berumur, namun menurut saya itulah pemandangan indah melebihi indahnya hamparan Cikasur. Terlihat bapak sangat muda dengan senyum yang mengenbang itu. ini adalah foto Cikasur tempat dimana yang menjadi teka-teki otak kami.

   Baik teman-teman, mungkin di bagian 3 ini saya cukupkan dulu sampai disini dan di bagian 4 adalah bagian terakhir di perjalanan kami. Saya benar-benar berpesan jangan sampai dilewatkan, sebab di bagian penutup akan ada cerita dimana saya pribadi tidak akan pernah menyangka sebelumnya.


NEXT TO  PART 4 >>>>>>>>>>>>>>>>>>   ^_^
Salam LESTARI...!!!

Selasa, 26 Maret 2013

Awal Tapak Kaki Mengejar Sebuah Impian 2

   Salam Hijau salam Lestari,  yaa kata-kata inilah yang layak mengawali coretan kisah Awal Tapak Kaki Mengejar Sebuah Impian 2 . Telah sekian lama tidak menulis, maka malam ini saya akan sedikit mencoba berbagi pengalaman tentang seputar dunia pendakian gunung.

  Pada kesempatan lalu, saya sudah berbagi perjalanan pendakian saya di Gunung Argopuro, yang terakhir sampai pada pembuatan Pos darurat dikarenakan kondisi salah satu dari anggota rombongan mengalami masalah. Akhirnya kami hanya mampu memasak air untuk membuat susu hangat, dan energen lalu melanjutkan untuk istirahat. perlu diketahuhi bahwa suhu saat itu mencapai  8derajat.

  Betapa sangat dingin hingga kami hanya mampu membuat minum dan sekedar untuk menunaikan sholat. Sang pagi telah menampakkan keangkuhannya dibalik pepohonan hutan G.Argopuro, setelah sholat kami lalu bergegas membuat makanan untuk sarapan di pagi yang sangat dingin ini. Tak lama sambil menunggu sarapan, kami dikejutkan dengan seekor hewan hutan yang sama sekali tidak kami sangka sebelumnya. Iyaa, seekor burung merak hutan berhasil mengelabuhi kami dengan keelokan nan keindahan bulunya yang sungguh menawan. Hahahaa. Meskipun semalam sangat lelah bahkan harus ada salah satu dari kami yang tidak kuat, namun pemandangan indah tersebut tak akan pernah mampu kami lupakan.  ^_^


  Jarum jam ternyata sangat ingin segera menuntaskan tugasnya untuk berlabuh hingga angka 12. Tepat di pukul 08.13 WIB kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan lagi dan kami telah disapa dengan hutan cemara dan padang rumput yang tinggi. Sempat tersirat pertanyaan dalam hati, apakah ini sedikit bocoran surga ?

Tak terasa 1jam kami berjalan melintasi hutan cemara dan padang rumput yang tinggi, terlihat bangunan kecil terbuat dari kayu dan ternyata disitulah Pos Cisentor. Tanpa berlama-lama kami hanya mengisi perbekalan air untuk sejenak istirahat, lalu kami kembali ingin segera menuntaskan tugas kaki ini. Perlu diketahui bahwa di Pos Cisentor ini adalah tempat bersatunya dari jalur Bremi dan Baderan. Kembali ke perjalanan, tak segan-segan jutaan batang bunga berwarna ungu mirip seperti bunga lavenda menemani kami hingga kami sampai di Pos Rawa Embik yang tepatnya pukul 10.55 WIB.

  Semilir angin berhembus menerpa kami ber 8 di tengah tanah lapang yang di sampingnya ada sungai kecil. Konon cerita dari beberapa pendaki, di tempat ini sering terjadi hal yang menyeramkan seperti jika malam sering ada anak kecil berjalan membawa lampu lampion dengan suara lonceng kecil. Hahaa, tapi entahlah hal itu tidak kami jumpai. Jadi hanya cerita dari para pendaki. Dari 8orang kami memutuskan untuk pergi ke puncak hanya 6 orang saja dan yang 2 tinggal di Pos Rawa Embik  untuk menjaga barang kami. Setiap langkah kaki saya, hanya decak kagum atas pemandangan ini, kami di suguhkan dengan hutan pinus, jurang, hingga bekas air terjun kering yang hanya nampak tebinig menjulang tinggi dan gagah.



  
Tak lama kemudian kami sampai di jalan bercabang antara puncak argopuro dan puncak rengganis. Kami sepakat untuk menuju ke puncak rengganis yang lebih tinggi dari pada puncak argopuro. Sangat indah dan luar biasa ketika saya melihat dan mengabadikan gambar jurang di puncak rengganis seprti yang tampak pada gambar sebelah kiri. Allah telah membuat kami terbelalak akan kekuasaannya. Jurang pada puncak rengganis lebuh dari 20 meter, bisa kita bayangkan seandainya ada yang terperosok da jatuh hingga dasar tebing jurang. Akan tetapi, bagi kami puncak rengganis ini sangat eksotik dengan segala macam kondisi alam dan juga terdapat seperti bekas bangunan yang masih tersisa. Konon bangunan ini adalah kerajaan Dewi Rengganis yang terdapat di gunung Argopuro, masih sangat terlihat jelas dan bukan rekayasa para pendaki. Ini foto bekas pondasi yang di percaya sebagai bekas pondasi kerajaan Dewi Rengganis. Ini adalah kali pertama saya mencapai puncak gunung, dan gunung Argopuro adalah termasuk gunung dengan jalur terpanjang di Jawa.



     Untuk bagian 2 saya cukupkan sekian, dikarenakan kesibukan yang padat. Saya berharap bagi anda yang masih peduli dengan alam, mari kita sharing dang tukar pengalaman. Untuk bagian 3 menyusul dan pendakian ini masih panjang dengan bumbu tantangan, keindahan, persahabat, dan perjuangan.

To Be Continue >>>>>>>  Awal Tapak Kaki Mengejar Sebuah Impian  3
^_^

Minggu, 17 Februari 2013

Awal Tapak Kaki Mengejar Sebuah Impian Bagian 1

Awal Tapak Kaki Mengejar Sebuah Impian  Bagian 1 disini perkenankan saya sedikit berbagi akan sekelumit kebesaran  Allah SWT.


  Jauh mata memandang hanya kabut, hanya rumput
  Semua tampak indah, tanpa rekayasa
  Menyimpan sejuta arti kehidupan
  Mengutarakan sejuta arti harapan
                          Gunung Argopuro





Sedikit coretan tadi sebagai awalan kami dalam penulisan ini. Jujur saya tidak pernah menyangka jika saya bisa menginjakkan di berbagai gunung di jawa. Akan tetapi sepertinya Allah berkehendak lain, pada kelas 1 SMA tepatnya pada awal tahun 2010 saya mengawali pendakian di Gunung Argopuro. Bersama 7 orang lainnya termasuk Bapak dan Kakak saya, kami memutuskan untuk memulai pendakian dengan rute jalur Probolinggo (Bremi) dan turun di Situbondo (Besuki). Kami sempat bermalam di pangkalan bus Akas yang sudah lama tidak beroperasi, guna pagi hari kami bisa berangkat ke Pos pemberangkatan lebih awal. Tepat pukul  06.30 WIB, kami meninggalkan pangkaln bus Akas tersebut. Sampai di Pos pemberangkatan pukul  08.30 WIB, kami langsung melapor ke pihak petugas setempat akan ttapi sebelum berangkat kami menyempatkan untuk memberi hak pada perut ini. hehehe.. Saat sedang menyantap makanan di sebuah warung, adaaaa seorang warga nyeletuk pada kami " Mas, apa nggak takut lewat probolinggo ? Sebab sangat jarang sekali ada yang berani melewati jalur Probolinggo ". Kami hanya senyum menanggapi nya. Hehehe..


     Jarum jam tak pernah mau di ajak kompromi, sang surya juga sudah menampakkan keganasannya. Kami mencoba untuk memohon kepada Allah SWT agar perjalanan ini lancar hingga akhir, dari sinilah pendakian sebenarnya dimulai. Awal perjalanan kami hanya disapa oleh hutan lindung, tanjakan, dan jalan licin, kondisi seperti ini kami alami hingga menuju POS 1, sekitar pukul  10.20 kami beristirahat di depan bangunan tua yang bertuliskan POS 1. Di iringi dengan canda tawa dan semilir angin dari lereng gunung, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami. Jam menunjukkan pukul 13.15 WIB, awan hitam, tebal mengintai perjalanan kami, bahkan sang Surya hana mampu mengintip malu di balik awan hitam itu, belum lagi hutan di jalur Bremi ini sangat alami. Jadi begitu sangat eksotis, namun awan tak bersahabat dengan ganasnya menurunkan air tiba-tiba. Kami langsung mengenakan jas hujan dan cover bag masing-masing, disini lah saya baru merasakan yang namanya keram tingkat tinggi. Bagaimana tidak ?????, dalam kondisi keram saya juga harus melihat kondisi alam yang sangat membuat hati ini tidak tenang. Dalam pendakian saya yang pertama saja sudah di hantam oleh air, angin, dan petir yang seakan-akan berada tepat di atas kepala. Subhanallah, jika saya saat itu tidak punya entah apa yang terjadi pada diri saya. Sedangkan teman-teman yang lain sudah berada cukup jauh di depan saya. Akan tetapi saya tetap berusaha untuk bangkit, dan melanjutkan perjalanan ini. tepat pukul  16.43  kami sampai di sebuah danau indah yang sebelumnya saya belum pernah melihatnya. Danau ini tidak lain adalah Danau Taman Hidup.



    Disinilah kami bermalam, dengan kondisi basah kami membuka tenda dan segera membuat makanan dan minuman untuk menghangatkan tubuh. Senja datang dengan anggungnya, kami tak mampu keluar dari tenda karena hujan terus turun.


    Pagi pun tiba, itu artinya perjalanan akan segera kami lanjutkan. Eiit, tapi jangan lupa untuk mengisi perut terlebih dahulu. hehehe.. Sebab di hari ke 2 ini perjalanan akan menguras tenaga mengingat jarak antara taman hidup dan Pos berikutnya sangat jauh dan merupakan jalur terpanjang sepangjang perjalanan. Sebuah tempat yang akan kami gunakan untuk tempat bermalam yaitu Pos Cisentor, ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Kami harus benar-benar berjuang untuk sampai ke Pos Cisentor tersebut. Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, lagi-lagi mendung menghampiri kami untuk menemani perjalanan ini. Dalam perjalanan ke Pos Cisentor ada tempat yang menajubkan bagi saya pribadi, entah apa nama tempatnya yang jelas sangat indah, yaitu sebuah bekas air terjun yang telah kering dan sudah tidak terpakai lagi.


    Sungguh perjalanan yang sangat mengasyikkan ketika kami harus melewati perbukitan dan hutan hujan yang alami ini. Kebesaran Sang maha kuasa tampak di hadapan kami. hamparan padang rumput dan lumut begitu menyatu dengan perjalanan kami.

   Pukul 15.10 WIB  pun kami masih belum sampai di Pos Cisentor tersebut, hingga terdapat tanda-tanda kejenuhan di antara kami. Hingga saat maghrib kami belum juga sampai di tempat yang selalu menjadi momok di pikiran saya waktu itu. Kami bersiap dengan senter kita masing-masing, dan jarak antara 1 orang dengan yang lain kami atur sehingga tidak terlalu jauh. Sebab kita tau bersama bahwa gunung ini masih banyak sekali hewan buas yang sewaktu-waktu dapat menyapa kita.

    Dingin menusuk tulang kaki Kakak saya sehingga perjalanan harus di  hentikan di tempat dimana kakak saya terjatuh, jangankan untuk berjalan, untuk berdiri saja dia sudah tidak mampu. Memang saya akui kondisi saat itu sangat genting, lalu kami membuat Pos darurat karena kondisi yang tidak memungkinkan. Alhamdulillah setelah menunaikan sholat maghrib dan isya' kami langsung beristirahat semaksimal mungkin untuk memulihkan tenaga, sebab keesokan harinya kami harus mencapai puncak sebelum dzuhur tiba padahal posisi kami masih belum sampai di Pos Cisentor.







Cukup sekian dulu di kisah perjalanan   Awal Tapak Kaki Mengejar Sebuah Impian    Bagian 1  ini. Dan nantikan untuk bagian selanjutnya yang 
jauh lebih seru dan banyak sekali kejutan........................>>>>>>>>>>>>

Sabtu, 16 Februari 2013

"AKAN AKU TAKLUKAN PUNCAK GUNUNG ITU"

"AKAN  AKU  TAKLUKAN  PUNCAK  GUNUNG  ITU"  adalah ungkapan yang kadang melalaikan kita pada sebuah pendakian yang sebenarnya.



    Pada kesempatan kali ini, akan saya sedikit torehkan  beberapa kalimat agar pendakian kita tidak sia-sia. Banyak di antara para pendaki yang baru memulai karir begitu sangat bersemengat dan antusias, Apakah itu salah ?? tentu tidak..!
Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika para pendaki ini mengatakan sebuah ungkapan yang tidak patut diungkapkan yaitu "AKAN  AKU  TAKLUKAN  PUNCAK  GUNUNG  ITU". Hati-hati dengan perkataan itu, sebab dapat menyebabkan munculnya sifat dan sikap egois.


  Ungkapan tersebut ibarat penyakit dalam diri pendaki, terutama pemula.Coba kita renungkan bersama, arti dari pendakian kita, apakah hanya sekedar mencapai puncak ?? saya yakin, kita semua akan menjawab TIDAK..!! Memang benar kita mendaki gunung tidak hanya untuk itu, namun jauh dari itu yaitu bukan hanya menakhlukan sebuah puncak akan tetapi menakhlukan sifat dan sikap egois dalam diri kita. Lalu apa hanya itu ?  Sekali lagi saya katakan tidak, pahamilah saudara ku bahwasanya pendakian adalah sebuah Lab.Kehidupan. Tempat dimana kita dapat menempa diri kita, serta tempat pembentukan karakter. Maka sangatlah konyol jika ada yang mengatakan "AKAN  AKU  TAKLUKAN  PUNCAK  GUNUNG  ITU".

   Naaah, sekarang kita paham akan makna pendakian itu sendiri. Tidak hanya sekedar mengejar puncak gunung, bukan hanya mengarungi hutan belantara, dan tidak pula hanya menggulung segala rintangan dalam perjalanan, namun pendakian yang sukses adalah perjalanan tapak kaki guna menempa diri kita tapi  Puncak gunung juga diusahakan untuk di raih. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi saya pribadi, dan kita semua.


-  GO GREEN INDONESIA  -

Sabtu, 09 Februari 2013

Manusia Serakah Alam pun tak Ramah

Manusia Serakah Alam pun tak Ramah. Yaaa, ini lah fakta dari hiruk pikuk kehidupan alam ini.



    Sebuah fenomena yang tidak asing lagi di bumi Indonesia ini, ketika banyak sekali bencana alam yang menimpa negara ini. Mulai dari banjir, tanah longsor, gunung meletus, hingga tsunami beberapa waktu lalu. Lalu akan timbul tanda tanya dalam pikiran kita Mengapa hal itu tersebut dapat terjadi ?, salah satu penyebabnya adalah ulah tangan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, ketika banyak manusia yang mengeksploitasi alam dengan semaunya padahal hal tersebut tidak dibenarkan dan akan berdampak pada murka Allah dan alam itu sendiri. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT dalam Al-Qu'an surat Al-Baqarah ayat 205 yaitu

(قال الله تعالى : وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ  (البقرة 

    Artinya : “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.

    Maka jelas ditinjau dari sudut pandang Islam pun, kita dilarang merusak alam sekitar kita. Banyak sekali pembalakan hutan liar di negara ini, maka tidak heran saat banjir melanda, tanah longsor menghampiri kita. Inilah fakta terjadi ketika Manusia Serakah Alam pun tak Ramah, lalu Siapa yang harus bertanggung jawab atas ini semua ?. Mau atau tidak mau adalah kita semua yang masih menginginkan hidup di Bumi ini. hehehe..  Dengan cara Apa ? Paling tidak, mulailah tidak merusak alam dengan berbagai bentuk mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, merokok, hingga pembalakan liar dan eksploitasi alam itu sendiri.

    Mari  kita segera membenahi alam yang mulai di jahili oleh
tangan-tangan manusia serakah, jangan sampai anak cucu kita masih melakukan kegiatan tak bertanggung jawab(merusak alam) tersebut akan tetapi tanamkanlah pada generasi muda akan kepedulian terhadap alam sekitar. Sebab disadari atau tidak, kita sebagai manusia juga akan tetap ada ketergantungan dengan alam. Sekarang pertanyaannya adalah, Masih maukah kita terus merusak alam ini ?        Masih maukah kita melihat anak cucu kita juga menerima dampak ketidak ramahan alam ini ? Bagi yang pernah merusak, bahkan serakah pada alam maeri kita taubat dan kembali ke jalan yang benar.


     Semoga sedikit tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadikan kita sadar bahwa apa yang terjadi pada negara ini bukan hal sepele. semakin SERAKAH anda, maka bersiaplah anda melihat anak cucu dan generasi muda juga akan menanggung dampak dari murka Allah SWT dan alam. Ini adalah bentuk keprihatinan diri saya pribadi atas berbagai bencana yang menimpa negara ini.
Terimakasih.


-GO GREEN INDONESIA-


    

Jumat, 08 Februari 2013

Ekspedisi Alam Atap 3 Pulau

Ekspedisi Alam Atap 3 Pulau adalah sebuah Ekspedisi di awal tahun 2013 dengan gunung luar jawa yang menjadi target.



     Anggunnya diri mu, mendatangkan sejuta senyum
     Menghadirkan ribuan tapak kaki lelah mendatangi mu
     Lembutnya embun memeluk mesra rerumputan
     Gagah diri mu, kokoh mencengkram bumi.
         
         Puncak mu seolah-olah memangil diri ku
         Senja membungkus keelokan mu, namun aku hanya mampu tersenyum.
         Sebuah karya agung dari Sang pencinta
         

    Pada awal tahun 2013 ini akan saya awali dengan pendakian yang cukup berat bagi saya. Berbekal pengalaman dari 6 gunung dengan ketinggian di atas 3.000 mDpl, saya mencoba memberi sebuah daya dobrak untuk teman-teman yang menyukai kegiatan alam bebas, serta menumbuhkan rasa cinta dengan alam sekitar. Dengan maraknya kegiatan pendakian gunung sebenarnya dapat meningkatkat minat pada para pendaki gunung, akan tetapi kegiatan
Ekspedisi Atap 3 Pulau inibukan hanya sebatas pendakian biasa yang menikmati alam saja melainkan sebuah perjalanan dalam pembentukan karakter dan jati diri.

    Sejatinya Ekspedisi Atap 3 Pulau ini terinspirasi dari seorang yang sangat berarti dalam hidup ku. Berawal dari  orang tua sebagai pendaki gunung membawa ku pada dunia pendakian pula. Pada tahun 90 an, beliau pernah mengadakan sebuah EKSPEDISI yang lumayan besar pada saat itu. Yaitu di beri nama Ekspedisi Atap 3 Pulau. Dalam benak nan pikiran akan timbul sebuah pertanyaan besar, apa maksud dari nama Ekspedisi tersebut. Ternyata yang di maksud dengan ATAP adalah tempat tertinggi dan 3 PULAU adalah di karenakan terdapat pada 3 Pulau yang berbeda, yaitu di Gunung Semeru (Jawa), Gunung Rinjani (Lombok), dan Gunung Agung (Bali). Dari sini lah saya mencoba untuk membuat tapak kaki, goresan pena, serta catatan perjuangan dalam pendakian yang saya bungkus dengan nama Ekspedisi Atap 3 Pulau versi 2013 dengan komposisi gunung yang sedikit berbeda, yaitu Gunung Semeru di gantikan dengan gunung Tambora yang berada di daerah Sumbawa.

   Satu alasan mengapa Gunung Tambora yang menjadi tujuan Ekspedisi ini adalah karena Gunung ini,begitu sangat fenomenal dal pikiran saya. Ketika kita menapak tilas trek record dari gunung ini begitu luar biasa, bisa kita ingat pada tahun 1815 tepatnya pada bulan April terjadi letusan hebat yang terdengar sampai Sumatra yang jaraknya lebih dari 2.000 km. Dapat kita bayangkan ketika pulau Sumatra saja terdengar, lalu bagaimana dengan pulau Jawa, Bali, Sulawessi, dll  ?.
Tidak hanya itu bahkan dampak dari letusan tersebut menyebabkan kematian 
hingga tidak kurang dari 71.000 orang
dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Bahkan sejarah mengatakan di sebabkan gunung ini, terjadi perubahan iklim dunia yang mempengaruhi musim panen di bekahan dunia yang lain yaitu di tanah Amerika Utara dan Eropa.

   Saya berharap dengan adanya dan bertambahnya para pendaki gunung dapat lebih paham akan hakikat dari pendakian serta memanfaatkan alam, bukan mendzolimi alam. Semoga kegiatan Ekspedisi Atap 3 Pulau versi 2013 ini akan berlangsung pada bulan Juni minggu ke-2 . Sebuah mimpi bocah perantau.



-SALAM EKSPEDISI ATAP 3 PULAU VERSI 2013-

Kamis, 03 Januari 2013

Sebuah Mimpi, Berjuta Ekspedisi

Sebuah Mimpi, Berjuta Ekspedisi


Berbicara soal alam memang takkan pernah ada habisnya. Alam menciptakan perjalanan, petualangan, persahabatan, dan banyak keragaman lainnya. Sudah lama mimpi itu mengambang di depan kening, bahkan dia selalu menghantui saat kedua kaki ini berpijak di tanah-tanah tertinggi di atas permukaan laut. Sebuah ekspedisi. Sebuah perjalanan penyelidikan ilmiah ke suatu daerah untuk sebuah misi. Itu mimpi besar saya!

Ekspedisi Atap Bumi Pertiwi. Sebuah ekspedisi terbatas (bisa lebih atau mungkin) hanya beranggotakan 8 orang termasuk Bapak saya, yang memang sudah holik banget sama yang namanya gunung mulai tahun 1982. Di dalam benak saya, ekspedisi itu akan mengeksplorasi yang jelas tentu saja mendaki gunung-gunung tertinggi di setiap pulau di nusantara. Dari Barat, Sabang hingga Timur, Merauke. Dalam sebuah mimpi pastilah ada harapan. Harapan terbesar saya adalah menjadi penyandang utama ekspedisi ini. Mengingat usaha yang saya rintis sejak saat ini memang untuk tujuan akhir itu. Itu hanya sekelumit mimpi besar dalam dunia pendakian dalam negeri. Masalah pendakian luar negeri? Belakangan, yang penting babat dulu keindahan alam Indonesia.

Beberapa orang berdecak, meremehkan. Biar saja, yang jelas saya yakin sekali bahwa ekspedisi ini nantinya akan membawa banyak manfaat. Karena Allah Swt menciptakan segala sesuatu di bumi ini untuk kemaslahatan manusia, bukan? Jadi, jika tidak dimanfaatkan dan nggak dinikmatin itu semua, malah saya akan merasa berdosa. Eits, tapi tetap memanfaatkan dengan baik bukan mengeksploitasinya. Pemanfaatan tetap dalam koridor dan batasan-batasan agama Islam. Dan satu lagi, mimpi ini juga saya niatkan untuk promosi Go Green Indonesia! Maka, sesuai nama yang diberikan oleh bapak saya. Saya, Gigih harus GIGIH dalam memperjuangkan mimpi besar saya ini! :)

Salam EABP!

 

Berita Hangat

Loading...

Blogger news

Gallery

Gallery
Gunung Semeru

Ranu Kumbolo

Gunung Argopuro

Gunung Argopuro

Gunung Lawu

Gunung Welirang

Gunung Arjuno

Gunung Slamet

Gunung Semeru

Blogroll

About